Featured Slider

20 Quotes tentang Lebah


20 Quotes tentang Lebah

Lebah yang tak kenal lelah mengumpulkan madu sering sekali dilupakan,

tapi satu sengatan kecilnya langsung mengundang kemarahan dan kebencian.

 

Kupu-kupu terlalu menjadikan sang lebah sebagai euforianya.

Padahal sang lebah datang hanya sebatas fatamorgana.

 

Lebah tidak menghabiskan waktu untuk menjelaskan kepada lalat,

bahwa madu lebih nikmat dibandingkan kotoran.

 

Jadilah seperti lebah.

Ia hinggap di tempat yang baik,

memakan yang baik,

dan menghasilkan yang baik.

 

20 Quotes tentang Sempurna


20 Quotes tentang Sempurna

Seratus itu sempurna, kamu satu lebih sempurna.

 

Tidak ada yang namanya benar-salah, baik-buruk.

Semua telah, sedang, dan akan berjalan sempurna.

 

Jangan pernah mencari benar dalam sebuah masalah, tapi carilah salahnya.

Mulut manusia terkadang terlalu sempurna saat mengoreksi,

tapi terlalu bodoh untuk introspeksi.

 

Kita tidak mungkin sempurna dalam beberapa hal.

Tapi beberapa hal juga tidak akan sempurna tanpa kita.

20 Quotes tentang Berani


20 Quotes tentang Berani

Orang yang berani berkata terus terang,

adalah orang yang mendidik jiwanya sendiri untuk merdeka.

 

Keraguan adalah pengkhianat

yang akan membuatmu kehilangan keberanian untuk sekadar mencoba.

 

Yang membedakan seorang pecundang dan pejuang,

adalah keberanian untuk mencoba.

 

Dicintai dengan begitu dalam oleh seseorang akan memberimu kekuatan,

sedangkan mencintai seseorang dengan begitu dalam akan membeirmu keberanian.

15 Quotes tentang Toleransi

 

15 Quotes tentang Toleransi

Jadilah seorang penuh toleransi pada orang lain

dan bukan menjadi orang yang butuh ditoleransi.

 

Toleransi itu bukan hanya soal berdampingan,

tapi juga soal kesejajaran.

 

Toleransi menyiratkan penghargaan terhadap orang lain,

bukan karena dia salah atau bahkan karena dia benar,

tetapi karena dia manusia.

 

Ketika Agama Hanya Perpanjangan Narsisme Spiritualmu

 

Ketika Agama Hanya Perpanjangan Narsisme Spiritualmu

Aku pernah bertemu dengan versi Tuhan yang paling sempurna menurutku.

Tuhan yang suka dengan ritualku, benci dengan orang yang kubenci, dan selalu setuju dengan pandanganku.

Aku menyembah-Nya dengan tekun. Hingga suatu hari, aku sadar: itu bukan Tuhan.

Itu diriku yang kuperbesar dan kusebut “Tuhan”.

 

Kita semua punya bakat menjadi pematung spiritual.

Setiap hari, tanpa sadar, memahat gambaran Tuhan sesuai keinginan kita sendiri.

Lalu kita sujud pada patung itu, berpikir kita sedang menyembah Sang Pencipta.