Halo, kamu yang kukasihi.
Ada malam-malam panjang yang kulalui sebelum terpikir
untuk menuliskan ini.
Pada akhirnya aku memilih berdiri di titik ini, tanpa siapa pun yang bernama
Tuhan, Sang Pencipta, atau berbagai istilah serupa. Bagiku, hidup terasa lebih
baik saat hulu dan muaranya kutempatkan pada diriku sendiri.
Masih terbayang jelas di benak ini ketika diriku antusias
menceritakan pilihan imanku.
Pilihan yang kemudian membawaku menemui kekecewaan demi kekecewaan akibat
harapan semu tak berujung.





